//
archives

Archive for

Aktif Mencari Tahu

Terima kasih! Itu yang harus saya ucapkan pada Tim Berners-Lee, seorang computer scientist yang dulu bekerja di CERN. Implementasi komunikasi antara client dan server melalui protokol HTTP yang berhasil dilakukannya menjadi awal mula internet.

Mencari tahu informasi apapun menjadi lebih cepat, mudah dan komprehensif. Dari bagaimana memproses Big Data dengan Apache Hadoop sampai cara memasak ayam goreng kalasan di Youtube. Dan buat saya pribadi, mencari tahu sepak terjang para electrical engineer dan computer scientist semasa hidupnya. Di umur berapa mereka mengenal elektronika/programming, latar belakang pendidikannya, paper-paper apa saja yang pernah dipublikasi, dan teknologi yang digunakan hingga punya produk yang awesome.

Sehat Sutardja salah satunya [1] [2]. Idola baru mahasiswa elektronika di Indonesia sekarang. Chip besutan perusahaan miliknya, Marvell Technology, ada di banyak smartphone di belahan bumi manapun. Kontribusinya ke dunia benar-benar luar biasa. Tapi semua itu tentu dimulai dengan ketertarikannya pada elektronik sejak kelas 6 SD saat berumur 12 tahun. Bersama dengan Pantas Sutardja, adiknya yang masih duduk di kelas 5 SD di Singapura, mencoba membuat generator Van de Graaff. Dan berhasil!

Rasa ingin tahu yang besar berlanjut dengan membuat transistor sendiri untuk memperbaiki radio ayahnya yang rusak. Butuh satu setengah tahun untuk Sehat mengerti bagaimana cara kerja transistor di radio. Determinasi yang tinggi dengan terus membaca majalah elektronika terbitan Inggris membawa Sehat hingga sampai pada tahap “ahaaa!”. Dan pada umur 34 tahun, sejarah Marvell dimulai.

Contoh lainnya yang menarik jelas Il Fenomeno di dunia komputer, Steve Jobs [3]. Tempat tinggal semasa kecilnya berada di daerah industri militer yang saat itu gencar dikembangkan [4] [5]. Sebut saja NASA Ames Research Center, The Lockheed Missiles and Space Division, Westinghouse, Fairchild Semiconductor–yang akhirnya pecah dan memunculkan Intel. Jobs belajar banyak dari Larry Lang tentang elektronika sejak kecil. Tetangga yang juga sekaligus Hewlet Packard engineer, “a hard-core electronics guy“, tempat di mana Jobs sering menghabiskan malam-malamnya mengoprek elektronika.

Menyadap pembicaraan orang tuanya, mengoprek Heathkit, bergabung dengan HP Explorers Club dan mengerjakan frequency counter–alat untuk menghitung jumlah pulse sinyal elektronik per detiknya, dan masih banyak oprekan lainnya yang rasanya tidak cukup ditulis di sini. Akan tetapi, satu oprekan yang perlu dicatat adalah ketika Jobs berumur 20 tahun, berkolaborasi dengan Steve Wozniack, 24 tahun, dan menciptakan Blue Box, yang juga digunakan untuk mengerjai Paus di Vatikan dari California. Alat tersebut terinspirasi oleh John Draper, hacker yang menemukan cara menelepon tanpa biaya dengan menggunakan mainan peluit  dari sereal makanan yang menghasilkan frekuensi 2600 Hz yang sama digunakan oleh AT&T.

Sejak saat itulah, terbentuk kerja sama antara dua orang ini yang akhirnya melahirkan Apple. Satu pernyataan yang menarik tentang Wozniack oleh Jobs adalah “Woz was the first person I’d met who knew electronics than I did“. Ya siapa pun tahu Wozniack adalah si hardware genious, tapi Jobs menjadi CEO bukan cuma karena kemampuannya mempengaruhi orang, melainkan juga karena keahlian elektronikanya. Tanpa itu, sangat kecil kemungkinan Jobs akan bertemu dengan Wozniack. Begitu pula dengan Sehat. Jika saja dia tidak tertarik dengan elektronika, sangat kecil kemungkinan dia akan berkolaborasi dengan adiknya yang sama-sama menyukai elektronika.

Persamaan kedua orang ini adalah aktif mencari tahu, yang pada akhirnya berubah menjadi passion. Jika ada yang mengatakan Jobs beruntung tinggal di daerah Silicon Valley sehingga bisa sukses, maka lihat Sehat yang hidup selama rentang waktu 1961-1980 di Jakarta. Apa ekosistem saat itu mendukung? Jika ada yang mengatakan Sehat beruntung karena cerdas, maka lihat orang tua angkat Jobs yang bukan dari golongan berkecukupan, serta kehidupan Jobs yang hippies hingga berkelana ke India. Yang membedakan hanya masalah kemauan.

Terkurung dalam keterbatasan apakah menjadikan sebuah alasan untuk malas mencari tahu? Jangan katakan itu karena kita akan malu dengan Iran [6]. Projek Bushehr, pembangunan reaktor nuklir yang bekerja sama dengan US pada awalnya, harus terhenti ketika Revolusi Islam meletus pada tahun 1979 di mana Ayatollah Khomeini menggulingkan Mohammad Reza Pahlavi yang pro barat.

Selama 33 tahun lamanya, masalah selalu datang menghadang. Perang 8 tahun dengan Irak menghancurkan sebagian reaktor nuklir. Setelah itu, pemimpin baru Iran yang anti barat menyebabkan kelanjutan pembangunan reaktor selalu dicegah oleh US dan Israel dengan alasan pengayaan uranium bukan digunakan untuk masalah energi listrik melainkan bom nuklir. Yang tentunya jelas akan mengganggu hegemoni US di Timur Tengah jika saja Iran menjadi negara kuat [7]. Pada akhirnya, engineer nuklir Iran berhasil menyelesaikan reaktor tersebut bekerja sama dengan bantuan Rusia.

Berhasilnya US drone diturunkan “secara paksa” oleh militer Iran tanpa cacat pun, menjadi semakin bukti nyata betapa cerdasnya para engineer Iran [8]. Mengamati penggunaan drone untuk memerangi Al-Qaida di Afganistan dan beberapa US drone yang jatuh ditembak sebelumnya, cukup memberi pengetahuan bagaimana menaklukkan “The Beast of Kandahar” yang naas itu. Oh tentu, “mainan” baru ini akan di-reverse engineering untuk transfer teknologi militer Iran. Saya percaya di balik para tentara yang berperang dengan gagah berani di garis depan, sekelompok engineer di pusat penelitian akan terus mendukung dari belakang untuk memperbesar kemungkinan memenangkan peperangan.

Reverse engineering juga hal yang menarik. Membaca paper dan blog engineering di perusahaan-perusahaan internet akan memberi kita kemampuan analisis untuk mendesain sistem jika ingin mendirikan startup yang lebih research-based. Mencari tahu bagaimana cara kerja search engine Google [9]. Mengapa algorithma PageRank bisa memberikan hasil pencarian yang lebih relevan ketimbang search engine lainnya [10]. Mengapa Facebook mengganti database NoSQL Cassandra dengan Apache HBase untuk layanan Facebook Message [11]. Atau bagaimana Twitter merancang backend-nya sehingga mampu menangani tweet yang jumlahnya luar biasa banyaknya [12].

Mencari tahu tidak harus melulu tentang teknologi. Membaca berita di media-media Indonesia pun juga. Jangan menangkap berita sepotong-sepotong. Cross check dengan pemberitaan dari media lain, baik cetak maupun elektronik, karena sekarang media sudah menjadi alat politik untuk menggiring opini masyarakat. Mungkin yang paling menyedihkan adalah bagi masyarakat yang jarang atau sulit mengakses informasi karena mudah untuk diprovokasi. Contohnya adalah kasus demo buruh di Bekasi hingga mengakibatkan macet total di jalan tol Jakarta-Bandung hingga lebih dari 5 jam baru-baru ini [13].

Sudah seberapa besar rasa ingin tahu kita (tentunya yang positif)? Bisa dimulai dengan yang sederhana seperti seberapa banyak kita tahu tentang orang-orang di lingkungan kerja, baik partner kerja, bawahan, dan atasan. Mengetahui nama panggilannya dan berasal dari daerah mana pun sudah cukup. Jangan berpikir, “memang dia penting?”. Orang akan menghargai kita jika mengingat nama mereka. Kita tidak akan pernah tahu di masa yang akan datang, mungkin mereka akan jadi penolong di saat kesusahan.

Satu hal yang pasti. Semakin banyak tahu, semakin besar keberuntungan akan datang. Jangan sia-siakan penggunaan internet. Sekarang internet so.. dekaaat!

Update

Hanya untuk Computer geek. Wajib hukumnya untuk membaca paper Google sekali dalam seumur hidup. Referensi [9].

Referensi

[1] http://indonesiasetara.org/sehat-sutardja-tak-kenal-menyerah/

[2] http://spectrum.ieee.org/semiconductors/design/sehat-sutardja-an-engineering-marvell/1

[3] W. Isaacson. “Steve Jobs”. Little, Brown. 2011

[4] http://steveblank.com/2009/08/03/the-secret-history-of-silicon-valley-part-vii-we-fought-a-war-you-never-heard-of/

[5] http://steveblank.com/2010/01/07/the-secret-history-of-silicon-valley-part-13-lockheed-the-startup-with-nuclear-missiles/

[6] http://www.payvand.com/news/03/oct/1015.html

[7] http://www.globalresearch.ca/articlePictures/new_us_bases.png

[8] http://www.csmonitor.com/World/Middle-East/2011/1209/Downed-US-drone-How-Iran-caught-the-beast/(page)/2

[9] S. Brin, L. Page. “The Anatomy of a Large-Scale Hypertextual Web Search Engine”. Proceedings of the 7th int’l conf. on World Wide Web. 1998.

[10] L. Page, S. Brin, R. Motwani, T. Winograd. “The PageRank: Bringing Order to the Web”. 1999.

[11] http://www.facebook.com/notes/facebook-engineering/the-underlying-technology-of-messages/454991608919

[12] http://engineering.twitter.com/2011/08/storm-is-coming-more-details-and-plans.html

[13] http://www.tempo.co/read/news/2012/01/27/058380059/Penumpang-Travel-Bandung-Jakarta-Terjebak-5-Jam

Advertisements

Menemukan Gagasan di Balik Tumpukan Artikel dan Paper Iimiah

Seminggu penuh membaca banyak artikel, paper, dan jurnal ilmiah yang diterbitkan IEEE dan ACM, sekitar 20-an paper, ternyata menyenangkan juga. Seperti lupa dunia dan tenggelam dalam pencarian pengetahuan sebanyak-banyaknya. Serasa mahasiswa S3 yang dikejar deadline untuk mempublikasikan paper di sebuah konferensi.

Menelusuri referensi yang ada di halaman belakang, melihat seberapa banyak dikutip paper lainnya di Google Scholar untuk mengetahui seberapa berkualitasnya paper, dan tentu di-print dalam bentuk hardcopy.

Biarlah tinta asli printer Lexmark Z600 Series, yang harganya 22 Euro di Jerman sebanding dengan harga printer itu sendiri di Indonesia, digunakan. Asalkan banyak pengetahuan bisa diserap.

Beruntung universitas memiliki akses IEEE, ACM, dan beberapa website lainnya untuk men-download artikel, paper, dan jurnal ilmiah. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan selama menjadi mahasiswa di sini.

Dan setelah membaca tumpukan paper-paper yang berserakan memenuhi meja dan kasur selama seminggu ini muncul beberapa gagasan menarik dan sederhana. Meskipun, cukup banyak juga paper-paper yang sulit dipahami. Entah apa yang ada di pikiran para peneliti ini hingga mampu menemukan solusi dengan cara-cara yang rumit.

Salah satu gagasan sederhana yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana mendesain mobile application yang dapat memprediksi waktu yang diperlukan untuk berjalan dari titik A ke titik B [1]. Ketimbang menggunakan algoritma kompleks dengan memperhitungkan banyak faktor yang mempengaruhi waktu tempuh pengguna, sistem dapat memprediksi perkiraan waktu dengan menggunakan log perjalanan orang-orang lain yang memiliki rute sama sebelumnya. Fokus dari gagasan ini adalah bagaimana teknologi komputasi diterapkan pada orang-orang dalam jumlah banyak, di mana mereka adalah bagian dari social structure. Istilah social yang sekarang menjadi trend di dunia akademik ilmu komputer.

Contoh gagasan menarik lainnya adalah memanfaatkan context, seperti lokasi, waktu, infrastruktur dan lainnya [2], untuk mengoptimalkan penggunaan energi di sektor transportasi, di mana dalam paper ini membahas khusus tentang taksi [3]. Dengan memanfaatkan GPS (Global Positioning System) di smartphone, sistem dapat memberikan rekomendasi di mana taksi-taksi harus berhenti menunggu penumpang sedemikian hingga penggunaan bensin dapat dihemat sebisa mungkin. Gagasan sederhana yang mampu meningkatkan peluang sukses bisnis sebuah perusahaan.

Dua contoh di atas hanya sebagian kecil dari gagasan lainnya yang jumlahnya tak terhingga banyaknya di balik website-website ilmiah itu. Gagasan-gagasan terus berkembang dari tahun ke tahun dan saling melengkapi. Gagasan-gagasan baru terus bermunculan. Menjadi fondasi dasar untuk gagasan-gagasan baru lainnya.

Di antara gagasan itu ada juga yang pada mulanya gagal diterima hingga beberapa tahun kemudian dilanjutkan kembali oleh peneliti lain. Dengan situasi yang berbeda dan teknologi pendukung yang ikut berkembang, gagasan gagal itu sekarang malah diterima banyak orang.

Contohnya layanan berbasis lokasi atau dikenal dengan Location-Based Services (LBS) [4]. Aplikasi LBS pertama di dunia adalah E911 (Enhanced 911) untuk keperluan darurat, di mana pemerintah Amerika pada tahun 1996 mengesahkan UU untuk memfasilitasi penggunaan LBS. Adanya layanan E911 akan memudahkan tim penolong 911 untuk mencari posisi orang dalam keadaan darurat. Sayangnya teknologi GPS saat itu kurang akurat sehingga operator-operator telekomunikasi menghentikan layanan tersebut.

Sekarang teknologi LBS digunakan oleh berjuta-juta penduduk dunia. Sebut saja Foursquare, Gowalla, SCVNGR yang berpusat di US dan Bouncity, Koprol yang ada di Indonesia. Didukung kemajuan penelitian GPS dan mewabahnya social network, layanan berbasis lokasi ini sudah berubah dari gagasan di atas kertas menjadi bisnis.

Terkadang dengan penelurusan referensi, bisa ditemukan paper yang dipublikasi oleh peneliti Indonesia di universitas-universitas luar negeri. Salah satunya adalah paper milik Prof. Juliana Sutanto, associate professor di Department of Management Information System ETH Zurich [5]. Yang sering menonton Kick Andy mestinya tahu beliau, dalam seri Berjaya di Negeri Orang.

Oleh karena itu, alangkah sayangnya bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kurang tertarik untuk membaca paper, baik mahasiswa S1 dan S2. Kalau mahasiswa S3,  tidak perlu diberitahu karena mereka sendiri yang perlu mencari paper untuk publikasi.

Ada begitu banyak gagasan di sana yang menarik untuk dicermati. Yang seringkali bersinggungan langsung atau tidak langsung dengan kehidupan kita. Gagasan-gagasan yang semestinya mampu menjawab permasalahan yang ada di Indonesia.

Tidak harus pada akhirnya menjadi peneliti untuk terus menerus membaca paper. Menjadi pegawai BUMN yang hobi membaca paper juga tidak masalah toh. Syukur-syukur bisa memberi solusi jika atasan sedang ada masalah teknis.

Ibu-ibu muda yang lagi hamil pun juga tidak dilarang membaca paper. Ketimbang berpindah-pindah saluran TV yang melulu sinetron di mana si protagonis selalu dianiaya oleh ibu tiri dan seperti tiada habis-habisnya atau media Indonesia yang kerap memberitakan kejahatan dan korupsi, diperparah pula sudah menjadi corong politik tiap partai, bukankah waktu menonton itu bisa diganti dengan membaca paper. Kualitas ibu-ibu Indonesia meningkat dan si “calon jagoan kecil” ikut cerdas.

Membaca paper akan mengubah pola pikir menjadi terstruktur dan rasional. Mengungkapkan pendapat berdasarkan fakta-fakta yang ada. Tidak yang asal “katanya si anu…”.

Teringat almarhum ayah saya. Beliau akan sangat marah besar kepada anak-anaknya jika tidak yakin dengan apa yang diucapkan dan hanya berdasar “katanya si X dan katanya si Y, boleh-boleh saja”. Memakan waktu satu jam lebih untuk mendisiplinkan anak-anak beliau untuk memahami hal ini dan tentu juga berulang-ulang.

Sekarang jika sudah membaca sampai di sini dan jarang membaca paper, mulailah dengan membuka Google Scholar dan cari artikel/paper yang menarik sesuai minat masing-masing. Membaca satu artikel/paper dalam waktu seminggu sudah cukup bagus.

Semakin banyak yang membaca paper, akan semakin banyak gagasan menarik bermunculan yang mampu menjawab permasalahan di sekitar kita. Meski tidak berbuat nyata, tapi gagasan akan menyebar dan terus diperbarui hingga akan ada seseorang yang mengimplementasikan di lapangan.

Referensi

[1] A. Schmidt. “Ubiquitous Computing: Are We There Yet?”. IEEE Computer, vol. 43, no. 2, pp. 95-97. 2010.

[2] Albrect Schmidt, Michael Beigl, Hans-W. Gellersen. “There is more to context than location”. Computers and Graphics 23 (1999) 893-901.

[3] Y. Ge, H. Xiong, A. Tuzhilin, K. Xiao, M. Gruteser, M. J. Pazzani. “An Energy-Efficient Mobile Recommender System”. KDD 10. 2010.

[4] P. Bellavista, A. Kuepper, S. Helal. “Location-Based Services: Back to the Future”. IEEE Computer Society, pp. 85-89. April-June 2008.

[5] Magagna, F., Jaccomuthu, M., Sutanto, J., “CA2P: An approach for privacy-safe context-aware services for mobile phones”, 4th IEEE International Conference on Ubiquitous-media computing (Umedia 2011), Sao Paulo, Brazil, July 2011