Pagi hari yang indah ini tiba-tiba ada call masuk ke hape. +62 813 6557 9631. Ah palingan telepon gak jelas seperti biasa. Kalau dijawab pasti langsung dimatiin, jadi diangkat aja dan diam gak ngomong apa-apa. Ternyata orang yang nelpon juga diam aja. Sampai 15 detik kemudian ngomong ‘APA’ gak jelas samar-samar seperti suara cewek.
Jaunty, seri Ubuntu 9, keluar April 2009. Masih fresh dan memiliki peningkatan performansi dari versi Intrepid sebelumnya. Visual effect yang dimiliki (setelah install hardware driver VGA) juga oke, apalagi ditambah package compiz. Berasa menggunakan Mac (padahal belum pernah nyoba sekalipun). Jelas ini menjadi daya tarik untuk pengguna Windows XP yang bosan dengan tampilan statis. Thanx to adegawa untuk informasinya.
Akhirnya saya percaya bahwa mitos beberapa Ibu-ibu Jakarta hobi “show off” baik merk barang atau lifestyle itu benar adanya. Mungkin beberapa yang berasal dari kalangan “The Have”. Pasti ada-lah sebagian ibu-ibu yang rendah hati tidak terlalu “songong”.
Jadi kemarin sabtu lagi makan di salah satu resto di Pejaten Village dalam acara mengunjungi my love di Jakarta. Datang dari Bandung hanya membawa tas kecil seukuran kamus inggris-indonesia, ya merknya sebut saja camconait. Tiba-tiba seorang ibu sebelah meja ngajak ngobrol.
Pertama-tama, saya sebagai fans PKT Bontang turut berkabung untuk almarhum Jumadi, salah satu pemain muda berbakat yang dimiliki Laskar Katulistiwa. Insiden ini memang sangat tidak terduga dan kematian terasa begitu dekat. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya.
Melihat gelagat-gelagat yang tidak baik seperti perut yang mulai membuncit (yang diduga keras isinya cuma angin doank) dan seringnya kena radang tenggorokan maka tempat tidur yang dekat dengan jendela akan dipindahkan ke posisi baru, sok dilihat di gambar.
Ah gila film ini!! Baru saja selesai ditonton. Film ini memiliki kesamaan genre dengan Back to The Future, tentang terjadinya paralel waktu dan dimensi yang saling terkait. Dan pasti bikin siapa pun yang menontonnya tidak akan bisa menebak alur ceritanya. Terlalu banyak kemungkinan jalan cerita. Jauh lebih menegangkan daripada Back to The Future. Mengapa demikian? Karena film ini juga menunjukkan sisi pembunuhan yang tidak terpecahkan di tahun 1966 dan 1999. 30 TAHUN! Crazy!
Endingnya… Happy Ending? atau Bad Ending? No way! Tonton sendiri! I recommend all of you who want to waste your time to watch this movie!
NB : penulis storylinenya pasti sering minum aspirin…
Nonton tipi, bosen. Baca komik, bosen. Jalan-jalan, dah sering. Futsal, kaki kanan masih cedera. Terus ngapain donk Minggu yang indah ini?????
Coding Game TicTacToe sajaaaa
Setelah seharian ngutak-ngutik, buat requirement -> spesifikasi -> design -> coding -> testing (no dokumentasi, males), akhirnya berhasil dibuat game TicTacToe versi cupu, Human vs Human. Bukan Human vs Computer aja. Lah kelas AI saja sering bolos, bagaimana mau canggih gamenya. Hehehe. Dibuat khusus untuk console di Windows saja. Mestinya Linux juga bisa karena compiler yang digunakan tentu saja GCC tercinta. IDE menggunakan Netbeans 6.5.
I’ve watched nice movies in TV5 Asie. There were pentalogy movies. The movies were made in 1964. It were so old!! And the protagonist is a heroine, Angélique Sancé de Monteloup. She was played by Michèle Mercier, an France actress.
Angélique lives in France in 1661 when Louise XIV was still alive. She was like Indiana Jones, but in another way, she has to fight against Versailles Court, Persian ambassador, and Kesultanan of Aljazair. The stories are very good, from France to Aljazair. Hohoho! I love them much, indeed.
The Young Michèle Mercier at age 25. (1964)
Disclaimer : There are many pictures. For low bandwidth connection, think again!
George Hulme thinks web defacement and denial-of-service isn’t classified as cyber war, but these actions are forms of demonstration in the cyber world like people who demonstrate in front of US Ambassador to condemn Israel’s attack in Gaza, Palestina. They just want to protest what they think isn’t right in another way, not to yell or to fight against the police, but “protest” in the internet like deface or launch an attack.
Maybe in the future, we’ll see when young people demonstrate in front of DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), they’ll launch several attacks to government’s websites too. Deface a web and tell the representatives that people don’t trust. Perhaps…
What you think? Do you agree if web defacement and denial-of-service are forms of demonstration? Or you don’t?